Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan kepatuhan tinggi dalam pengobatan guna mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Namun, tingkat ketidakpatuhan pasien masih cukup tinggi, terutama akibat kurangnya pemahaman mengenai penyakit dan penggunaan obat yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Mellitus. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan model one group pretest–posttest. Pengukuran tingkat kepatuhan dilakukan menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) sebelum dan sesudah intervensi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi tingkat kepatuhan serta secara inferensial menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pemberian PIO dan konseling, tingkat kepatuhan rendah sebesar 61,6%, kepatuhan sedang 21,9%, dan kepatuhan tinggi 16,4%. Setelah intervensi, terjadi peningkatan kepatuhan tinggi menjadi 61,6%, kepatuhan sedang 24,7%, serta penurunan kepatuhan rendah menjadi 13,7%. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi (p = 0,000 < 0,05). Kesimpulannya, pemberian Pelayanan Informasi Obat dan konseling oleh apoteker berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien DM. Intervensi ini dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Copyrights © 2026