Hipertensi resisten merupakan kondisi tekanan darah tetap tidak terkontrol meskipun telah menggunakan tiga atau lebih obat antihipertensi dalam dosis optimal. Keadaan ini menjadi krusial dan kompleks bila disertai komorbiditas seperti diabetes melitus dan penyakit ginjal kronis, sehingga mempersulit strategi pengelolaan terapi. Tujuan penelitian ini adalah meninjau pendekatan terapi hipertensi resisten pada pasien komorbid untuk mengidentifikasi strategi pengelolaan yang paling efektif. Studi ini menggunakan metode literature review terhadap artikel ilmiah (original research) berbahasa Indonesia atau Inggris pada rentang tahun 2015–2025 yang tersedia dalam bentuk full-text. Hasil peninjauan menunjukkan pendekatan terapi kini bertumpu pada profil klinis spesifik pasien. Finerenon menjadi opsi ideal untuk pasien penyakit ginjal kronis karena menekan albuminuria dengan risiko hiperkalemia minim, sementara klortalidon dosis rendah dapat digunakan untuk target albuminuria tinggi dengan pengawasan kreatinin ketat. Pada diabetes melitus tipe 2, baxdrostat menunjukkan efektivitas tertinggi dalam menurunkan tekanan darah sistolik. Kasus renin rendah memerlukan spironolakton atau amilorid disertai pemantauan kalium. Aprocitentan efektif untuk kontrol jangka panjang jika efek edema awalnya dikelola dengan diuretik. Bagi pasien dengan aldosteronisme primer, tindakan bedah adrenalektomi unilateral memberikan tingkat kesembuhan hingga 98%. Simpulan dari studi ini adalah tata laksana terapi hipertensi resisten wajib disesuaikan dengan jenis komorbiditas pasien, mengingat setiap regimen pengobatan memiliki karakteristik, keunggulan, serta risiko klinis yang berbeda.
Copyrights © 2026