nfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyumbang utama tingginya angka kesakitan pada balita di negara berkembang. Secara nasional, kasus ISPA pada balita melonjak hingga mencapai angka 34,2% di tahun 2023. Di wilayah Kota Jambi sendiri, Puskesmas Tahtul Yaman secara konsisten mencatatkan persentase kejadian tertinggi yang mencapai 64,84% pada tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan tujuan utama untuk mengkaji kaitan antara kualitas udara dalam rumah, kondisi fisik bangunan, dan faktor perilaku dengan munculnya gejala ISPA pada balita. Studi cross-sectional ini melibatkan sampel sebanyak 109 balita yang ditarik melalui metode cluster random sampling. Variabel lingkungan dinilai secara objektif lewat pengukuran langsung di lapangan, sementara pengumpulan data perilaku menggunakan instrumen kuesioner terstruktur. Hasil uji Chi-Square memperlihatkan bahwa terdapat 44,0% balita di area ini mengalami gejala ISPA. Temuan utama membuktikan adanya hubungan korelasi yang bermakna antara gejala ISPA balita dengan ketersediaan ventilasi rumah (p=0,042; PR=1,63) dan jenis bahan bakar untuk memasak (p=0,006; PR=2,08). Di sisi lain, faktor PM2.5, CO, suhu, kelembapan, kebiasaan merokok, membakar sampah, dan obat nyamuk tidak memiliki kaitan signifikan (p>0,05). Kesimpulannya, sirkulasi udara yang minim serta penggunaan bahan bakar memasak yang kotor merupakan faktor pemicu utama tingginya kasus ISPA balita. Oleh karena itu, direkomendasikan pentingnya membuka jendela rutin.
Copyrights © 2026