Gangguan bipolar sangat sensitif terhadap gangguan tidur, ritme sirkadian, ritme sosial, dan jadwal pengobatan. Puasa Ramadan dapat memengaruhi kestabilan suasana hati melalui perubahan pola makan, hidrasi, waktu tidur, kepatuhan minum obat, serta rutinitas religius dan sosial. Tinjauan sistematis ini mengevaluasi intervensi berbasis puasa, khususnya puasa Ramadan, pada pasien dengan gangguan bipolar, dengan fokus pada kestabilan suasana hati, kekambuhan, keamanan penggunaan lithium, kepatuhan, tidur, dan luaran terkait ritme sirkadian. Pencarian sistematis dilakukan pada PubMed, Cochrane Library, dan ScienceDirect. Studi yang memenuhi kriteria melibatkan pasien dengan gangguan bipolar atau gangguan afektif bipolar serta menilai puasa Ramadan, paparan puasa, luaran suasana hati, keamanan lithium, kepatuhan, atau temuan terkait sirkadian/tidur. Karena heterogenitas desain dan luaran penelitian, data disintesis secara naratif. Sebanyak tujuh studi dimasukkan, sebagian besar meneliti puasa Ramadan dibandingkan puasa intermiten sekuler atau pembatasan waktu makan. Studi yang berfokus pada lithium umumnya melaporkan tidak adanya perubahan bermakna pada kadar lithium serum, fungsi ginjal, maupun elektrolit pada pasien stabil selama Ramadan. Temuan terkait suasana hati tidak konsisten; satu studi melaporkan angka kekambuhan sebesar 45%, terutama episode mania, sedangkan studi lain tidak menemukan kekambuhan dan menunjukkan perbaikan skor HDRS/YMRS. Gangguan tidur dan perubahan kepatuhan pengobatan menunjukkan adanya “efek Ramadan” yang lebih luas. Puasa Ramadan pada gangguan bipolar sebaiknya dipandang sebagai paparan kompleks yang mengganggu ritme biologis, bukan sekadar pembatasan kalori.
Copyrights © 2026