Wisatawan sering mengalami gangguan kesehatan ringan seperti stomatitis dan keluhan gastrointestinal akibat perubahan pola makan, stres perjalanan, dan adaptasi terhadap lingkungan baru. Penggunaan obat sintetik jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping sehingga pendekatan herbal menjadi alternatif menjanjikan. Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Asia, termasuk dalam bentuk jamu di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengulas potensi jamu pegagan dalam meredakan stomatitis dan gejala gastrointestinal ringan pada wisatawan serta mengkaji mekanisme fitokimianya. Penelitian menggunakan kajian pustaka deskriptif-kualitatif dengan pendekatan komparatif. Sumber data berasal dari artikel jurnal, prosiding, dan laporan penelitian yang terindeks pada Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan ResearchGate, dibatasi pada publikasi 2016–2026. Analisis dilakukan secara tematik berdasarkan mekanisme kerja senyawa aktif, kondisi klinis, dan relevansi terhadap wisatawan. Pegagan mengandung triterpenoid saponin (asiaticoside, madecassoside), flavonoid (quercetin, kaempferol, rutin), tanin, alkaloid, dan fitosterol. Senyawa-senyawa tersebut bekerja sinergis melalui aktivitas antiinflamasi, regeneratif, antisekretorik, antioksidan, dan antimikroba ringan. Studi praklinik menunjukkan proteksi mukosa lambung, percepatan penyembuhan stomatitis, serta efek antidiare yang sebanding dengan loperamid. Jamu berbasis Pegagan berpotensi besar sebagai sediaan herbal yang aman, alami, dan diterima secara budaya untuk mendukung kesehatan wisatawan, namun diperlukan uji klinis terkontrol untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan standardisasi pada manusia
Copyrights © 2026