Infeksi luka operasi (ILO) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi setelah laparotomi dan berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, lama rawat inap, kebutuhan penggunaan antibiotik, tindakan reoperasi, serta biaya pelayanan kesehatan. Identifikasi pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami ILO menjadi penting untuk mendukung strategi pencegahan dan meningkatkan luaran klinis. Rasio neutrofil–limfosit (RNL) merupakan biomarker inflamasi yang diperoleh dari pemeriksaan darah rutin dan mencerminkan keseimbangan antara respons imun bawaan dan adaptif. Artikel ini bertujuan menelaah bukti ilmiah mengenai peran RNL sebagai prediktor kejadian infeksi luka operasi pada pasien yang menjalani laparotomi. Penulisan dilakukan menggunakan metode tinjauan pustaka melalui penelusuran literatur pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar terhadap artikel yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Literatur dipilih berdasarkan relevansi dengan topik pembahasan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan komprehensif. Hasil telaah menunjukkan bahwa peningkatan RNL berhubungan dengan respons inflamasi sistemik yang lebih berat serta peningkatan risiko terjadinya ILO pada berbagai jenis pembedahan, termasuk laparotomi. Rasio neutrofil–limfosit memiliki keunggulan karena mudah diperoleh, murah, cepat, dan tersedia di hampir seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Meskipun demikian, variasi nilai ambang dan heterogenitas karakteristik penelitian masih membatasi penerapannya sebagai standar klinis. Rasio neutrofil–limfosit berpotensi menjadi biomarker sederhana dalam stratifikasi risiko infeksi luka operasi, namun masih diperlukan penelitian prospektif berskala besar untuk menetapkan nilai ambang yang optimal dan memvalidasi penggunaannya pada berbagai populasi pasien.
Copyrights © 2026