Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer menghadapi tantangan disrupsi teknologi siber, di mana arsitektur digital berpotensi mendistorsi dan memfragmentasi agensi moral siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme fragmentasi akhlak digital pada remaja Muslim dalam ruang gema algoritmik (algorithmic echo chambers) menggunakan sintesis teoretis psikologi moral Albert Bandura dan epistemologi akhlak Al-Ghazali. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi kritis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, netnografi, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) terhadap 15 remaja Muslim berusia 16–18 tahun di wilayah urban yang aktif menggunakan media sosial dengan durasi tinggi. Analisis data menerapkan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang gema algoritmik memicu desensitisasi etis dengan mengaktifkan mekanisme moral disengagement, meliputi justifikasi moral normatif, difusi tanggung jawab kolektif virtual, dan dehumanisasi aktor siber. Proses teknososiologis ini melemahkan fungsi lathifah (sensivitas spiritual) dan melumpuhkan muhasabah (introspeksi diri), sehingga perilaku toksik digital mengalami normalisasi akibat validasi metrik keterlibatan virtual (likes dan shares). Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konseptual antara Moral Disengagement Theory dan psikologi spiritual Islam untuk mengurai patologi siber remaja. Implikasi riset ini menegaskan perlunya rekonstruksi radikal kurikulum PAI menuju Critical Digital Akhlak Pedagogy yang melampaui doktrin moralitas tekstual-konvensional.
Copyrights © 2026