Aktivitas berjalan kaki di Indonesia masih tergolong rendah secara global meskipun aktivitas ini memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan. Area pedestrian yang mewakili konteks lokal dan aspek psikologi pengguna penting untuk diperhatikan guna meningkatkan minat untuk berjalan kaki. Penelitian ini mengidentifikasi integrasi antara elemen fisik lingkungan binaan dan pengalaman afektif pejalan kaki melalui penilaian walkability secara objektif-subjektif. Menggunakan metode kualitatif eksploratif dengan metode photo-elicitation, responden dipilih secara purposive sampling untuk melakukan simulasi berjalan di koridor pedestrian Kota Bandung (Jalan Ganesha–Jalan Ir. H. Juanda). Hasil riset menyimpulkan lima aspek utama lingkungan binaan yang mengendalikan emosi pejalan kaki: 'daya tarik', 'keselamatan', 'fasilitas', 'kenyamanan', dan 'ruang'. Aspek 'daya tarik' menjadi faktor paling dominan yang memicu emosi positif melalui stimulasi multisensori (vegetasi hijau, fasad arsitektur, area komersial, dan lanskap penciuman kontras antara wangi bunga alami dan bau sampah). Sebaliknya, emosi negatif didominasi kerentanan aspek 'keselamatan' akibat gangguan kendaraan bermotor dan kurangnya pemeliharaan fasilitas. Temuan ini memperluas konsep desain walkable environment yang dapat digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan berorientasi pejalan kaki di kawasan urban tropis berkembang.
Copyrights © 2026