Pendidikan antikorupsi merupakan strategi preventif yang penting untuk membentuk generasi berintegritas sejak lingkungan sekolah. Dalam proses tersebut, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan moral yang perilaku sehari-harinya diamati dan ditiru oleh peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran guru sebagai teladan dalam penanaman nilai antikorupsi di sekolah serta mengidentifikasi faktor pendukung dan tantangan penerapannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur terhadap artikel ilmiah, buku, pedoman pendidikan, dan dokumen kelembagaan yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis isi untuk menemukan pola konseptual dan temuan empiris mengenai keteladanan, integrasi nilai dalam pembelajaran, budaya sekolah, dan kolaborasi dengan keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsistensi guru dalam menunjukkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, keadilan, transparansi, dan keberanian mengakui kesalahan menjadi fondasi utama pembentukan karakter antikorupsi siswa. Efektivitasnya semakin kuat ketika nilai antikorupsi diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran, dibiasakan melalui budaya sekolah, serta didukung oleh keterlibatan kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala berupa ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan guru, keterbatasan pemahaman pendidik, lemahnya kebijakan internal, dan budaya permisif terhadap ketidakjujuran kecil. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan, evaluasi keteladanan, penguatan tata kelola sekolah yang transparan, dan sinergi antarlingkungan pendidikan agar penanaman nilai antikorupsi berlangsung konsisten, kontekstual, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026