Sadar atau tidak, teknologi dan media sosial punya andil besar dalam mengubah cara mahasiswa mengobrol sehari-hari. Sekarang, platform seperti WhatsApp, Instagram, Tiktok, dan Telegram penuh dengan bahasa gaul. Alasan utamanya simpel: bahasa gaul terasa lebih praktis, santai, dan gak ribet dibanding bahasa baku. Penggunaan bahasa gaul ini tidak hanya muncul dalam percakapan langsung, tetapi juga sangat sering ditemukan dalam komunikasi digital yang dilakukan setiap hari. Fenomena ini semakin mudah ditemukan karena media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Penelitian ini dibuat untuk membedah apa saja penyimpangan ejaan yang sering muncul akibat bahasa gaul ini jika diukur menggunakan standar EYD V, sekaligus mencari tahu apa yang membuat mahasiswa sering memakainya. Selain itu, penelitian ini juga berupaya melihat sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap aturan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan lewat observasi, dokumentasi, dan survey Google Form ke 42 mahasiswa dari berbagai jurusan. Hasilnya adalah mahasiswa sebenarnya paham aturan EYD V, tapi mereka sengaja memilih bahasa gaul untuk mengirim pesan sehari-hari. Jenis “kesalahan” ejaan yang paling sering ditemukan adalah singkatan yang ngasal, cuek sama huruf kapital, lupa pakai tanda baca, atau malah menggunakan tanda baca yang berlebihan. Penyebab utamanya tidak lain adalah pengaruh media sosial, kebiasaan, ingin cepat mengetik, dan pengaruh lingkungan tongkrongan. Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi turut memengaruhi kebiasaan berbahasa mahasiswa. Kalau dibiarkan terus kebiasaan ini ditakutkan bisa terbawa sampai ke tulisan ilmiah mereka dan memengaruhi kualitas penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Copyrights © 2026