Transformasi digital mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai sektor, termasuk pertanian. Di Indonesia, kebutuhan penyebaran informasi pertanian terus meningkat seiring besarnya jumlah rumah tangga petani, sementara keterbatasan jumlah penyuluh dan luasnya wilayah layanan masih menjadi hambatan struktural dalam distribusi informasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran AI sebagai instrumen komunikasi publik dalam layanan pertanian digital. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Literatur diperoleh dari Scopus, Google Scholar, dan Dimensions pada periode 2018–2026, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI tidak hanya berfungsi sebagai teknologi pendukung pertanian digital, tetapi juga sebagai instrumen komunikasi publik yang memfasilitasi penyebaran informasi, edukasi, dan interaksi antara penyedia layanan dengan petani. Implementasi AI paling dominan ditemukan dalam bentuk chatbot berbasis Natural Language Processing (NLP) yang digunakan untuk layanan konsultasi tanaman, informasi cuaca, harga komoditas, dan rekomendasi budidaya. AI berpotensi meningkatkan akses informasi secara real-time, personal, dan lebih luas dibandingkan sistem penyuluhan konvensional. Pengalaman dari India, Kenya, dan Tiongkok menunjukkan bahwa keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada kemampuan sistem untuk menyesuaikan diri dengan bahasa dan konteks lokal pengguna. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa literasi digital, keterbatasan infrastruktur, kepercayaan pengguna, privasi data, dan biaya implementasi. Sebagai kontribusi konseptual, penelitian ini mengajukan Model Komunikasi Pertanian Digital Berbasis AI (KPD-AI) sebagai kerangka untuk memahami peran AI sebagai saluran komunikasi publik yang memungkinkan pertukaran informasi dan umpan balik secara berkelanjutan antara penyedia layanan dan petani.
Copyrights © 2026