Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah kepulauan dan pesisir Pulau Bengkalis memiliki peran vital dalam menopang perekonomian daerah. Namun, perkembangannya sering kali terhambat oleh kelemahan tata kelola keuangan konvensional yang mencampuradukkan dana pribadi dan usaha, sehingga menempatkan mayoritas UMKM pada status unbankable. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola keuangan UMKM, mengidentifikasi hambatan determinan dalam proses adopsinya, serta merumuskan strategi akselerasi yang tepat sasaran. Menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui ekstraksi dan sintesis literatur-literatur akademik, jurnal empiris, serta data statistik yang berfokus pada ekosistem UMKM dan teknologi finansial di Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Bengkalis. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi aplikasi pembukuan digital dan sistem pembayaran QRIS sangat efektif dalam meminimalisir kesalahan pencatatan, menciptakan transparansi, dan menghasilkan laporan keuangan sesuai standar. Kendati demikian, tingkat adopsi di lapangan masih rendah akibat adanya hambatan struktural (keterbatasan literasi digital teknis) dan hambatan kultural (persepsi kerumitan sistem dan keengganan meninggalkan kebiasaan lama). Sebagai solusi integratif, penelitian ini merekomendasikan penerapan sinergi Pentahelix (Pemerintah, Akademisi, Perbankan, Platform Teknologi, dan Komunitas) yang berfokus pada pendampingan learning by doing secara berkelanjutan untuk mengakselerasi literasi keuangan digital UMKM secara masif. Temuan ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan digitalisasi keuangan yang inklusif dan berkelanjutan bagi UMKM pesisir.
Copyrights © 2026