Keberhasilan dan keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang bergantung pada pengembangan budaya organisasi yang kuat. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pengembangan budaya organisasi di Moosa Edufarm, sebuah lembaga agrowisata edukasi peternakan sapi di Sumatera Barat yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam praktik kerjanya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus instrumental. Sumber data primer berasal dari pengalaman langsung penulis sebagai staf edufarm selama satu tahun, mencakup observasi partisipan terhadap dinamika kerja tim, pola solidaritas lintas divisi, dan implementasi sistem akuntabilitas. Data sekunder diperoleh dari studi literatur mendalam tentang teori pengembangan budaya organisasi dan etos kerja Islami dari para ahli seperti Fahmi (2012), Schein (2017), Robbins (1996), dan Kotter (1996). Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi antara pengalaman lapangan dan referensi teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Moosa Edufarm membangun budayanya melalui lima mekanisme yang saling memperkuat: internalisasi nilai-nilai Islam sebagai pondasi kerja, sosialisasi nilai secara organik melalui interaksi sehari-hari, keteladanan pimpinan yang hadir langsung di lapangan, sistem akuntabilitas berbasis amanah melalui stok opname bulanan, serta evaluasi informal namun konsisten. Lembaga ini mengadopsi budaya terbuka dan partisipatif yang diperkaya nilai-nilai Islam, ditandai oleh solidaritas lintas divisi yang muncul secara spontan, terutama saat menangani kunjungan rombongan besar hingga 200 orang. Keunikan budaya Moosa Edufarm terletak pada fleksibilitasnya yang bukan berarti longgar, melainkan kepercayaan yang tumbuh dari nilai bersama yang telah terinternalisasi secara tulus.
Copyrights © 2026