Pelanggaran etika di perguruan tinggi masih menjadi permasalahan serius sehingga Whistleblowing System (WBS) diperlukan untuk mendeteksi penyimpangan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh sikap terhadap perilaku, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan lingkungan etika terhadap intensi mahasiswa akuntansi melakukan whistleblowing melalui WBS. Menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior dan Ethical Work Climate Theory, data dikumpulkan melalui survei terhadap 100 mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Brawijaya yang telah menempuh mata kuliah Akuntansi Forensik. Sampel diambil secara simple random sampling. Instrumen berupa kuesioner skala Likert lima poin yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya dan telah diuji validitas serta reliabilitasnya melalui pilot test pada 30 responden. Analisis data menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan software SmartPLS 4.0, mencakup evaluasi model pengukuran dan model struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku (β=0,224; p=0,002), norma subjektif (β=0,225; p=0,011), persepsi kontrol perilaku (β=0,375; p<0,001), dan lingkungan etika (β=0,244; p=0,001) berpengaruh positif signifikan terhadap intensi whistleblowing, dengan persepsi kontrol perilaku sebagai prediktor terkuat. Model menjelaskan 56,5% varians (R²=0,565). Temuan ini menegaskan pentingnya kemudahan akses, perlindungan pelapor, dukungan sosial, dan iklim etika organisasi dalam mendorong pelaporan pelanggaran. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu menyediakan saluran WBS yang terjamin kerahasiaannya serta memperkuat budaya integritas akademik. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian tentang whistleblowing di lingkungan pendidikan tinggi.
Copyrights © 2026