Globalisasi dan digitalisasi telah membawa perubahan sosial yang mendorong munculnya pola hidup individualistik serta berpotensi melemahkan identitas budaya lokal. Dalam konteks tersebut, kearifan lokal menjadi sarana penting untuk menjaga solidaritas sosial dan memperkuat identitas nasional. Salah satu kearifan lokal yang masih lestari adalah tradisi Mbarak di Desa Josari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran tradisi Mbarak dalam menjaga solidaritas sosial masyarakat serta memperkuat identitas nasional di tengah tantangan modernisasi Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan generasi muda, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mbarak tidak hanya berfungsi sebagai tradisi silaturahmi kolektif pada Hari Raya Idul Fitri, tetapi juga menjadi modal sosial yang memperkuat hubungan antarwarga melalui nilai gotong royong, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab sosial, dan solidaritas komunal. Tradisi ini mampu membangun rasa memiliki terhadap komunitas, mempererat hubungan antargenerasi, serta menjadi media pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Di tengah meningkatnya kecenderungan individualisme, Mbarak tetap menjadi ruang interaksi sosial yang efektif dalam menjaga kohesi sosial masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Mbarak merupakan kearifan lokal yang berperan penting dalam menjaga “urat nadi” sosial masyarakat sekaligus memperkuat identitas nasional melalui pengamalan nilai persatuan dan gotong royong.
Copyrights © 2026