Fenomena penggunaan bahasa gaul di media sosial semakin berkembang seiring dengan meningkatnya intensitas komunikasi digital pada berbagai kalangan masyarakat modern. Bahasa gaul hadir dalam beragam bentuk dan digunakan sebagai sarana untuk membangun identitas, menunjukkan keakraban, serta mengikuti tren yang berkembang di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena penggunaan bahasa gaul dalam interaksi media sosial berdasarkan temuan penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji lima belas artikel ilmiah yang dipilih dari lima puluh artikel terbitan tahun 2020–2026 sesuai topik penelitian. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa gaul yang digunakan dalam media sosial memiliki beragam bentuk, seperti singkatan, akronim, kontraksi, pemenggalan kata, serapan bahasa asing, metatesis, serta campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa istilah yang banyak ditemukan antara lain baper, gercep, salting, fyp, gws, spill, sigma, dan red flag. Penggunaan bahasa gaul dipengaruhi oleh perkembangan media sosial, budaya digital, serta kebutuhan pengguna untuk berkomunikasi secara lebih efektif dan ekspresif. Selain itu, bahasa gaul berfungsi sebagai penanda identitas kelompok, memperkuat solidaritas sosial, dan menciptakan kedekatan antar pengguna media sosial. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi kebiasaan berbahasa sehingga penggunaan bahasa Indonesia baku menjadi berkurang dalam situasi formal maupun akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari dinamika kebahasaan yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang tepat mengenai penggunaan bahasa sesuai dengan konteks komunikasi agar kreativitas berbahasa tetap berkembang tanpa mengabaikan kaidah bahasa Indonesia.
Copyrights © 2026