Karyawan SPBU menghadapi tekanan kerja yang kompleks, mulai dari tuntutan pelayanan pelanggan yang tinggi, risiko keselamatan kerja, sistem shift yang panjang, hingga status kerja kontrak yang menimbulkan ketidakamanan kerja (job insecurity). Kondisi ini berpotensi memicu stres kerja, meskipun tidak semua karyawan meresponnya dengan cara yang sama, sehingga diduga terdapat peran resiliensi psikologis sebagai faktor pelindung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketidakamanan kerja terhadap stres kerja yang dimoderasi oleh resiliensi psikologis pada karyawan SPBU di Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling dari 34 SPBU yang beroperasi di Kota Makassar di bawah naungan PT. Anugerah Fitrah Hidayat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 1-5, kemudian dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan SPSS versi 26, setelah sebelumnya dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakamanan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kerja, dengan nilai koefisien regresi sebesar -1,112 dan signifikansi 0,001 < 0,05. Resiliensi psikologis terbukti secara signifikan memoderasi hubungan tersebut, dengan nilai koefisien interaksi sebesar -0,090 dan signifikansi 0,001 < 0,05. Nilai R Square Model 3 sebesar 0,559 menunjukkan bahwa 55,9% variasi stres kerja dapat dijelaskan oleh variabel dalam model penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa resiliensi psikologis berperan penting sebagai psychological buffer yang memperlemah dampak ketidakamanan kerja terhadap stres kerja karyawan SPBU di Makassar, sehingga penguatan resiliensi dapat menjadi strategi intervensi yang efektif bagi manajemen SPBU.
Copyrights © 2026