Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi sehingga diperlukan identifikasi karakteristik bawah permukaan sebagai dasar mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis tanah, menentukan kedalaman bidang gelincir, serta mengevaluasi potensi longsor melalui integrasi metode geolistrik resistivitas dan pengujian indeks properties tanah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan akuisisi data geolistrik resistivitas satu lintasan, pengambilan sampel tanah tidak terganggu menggunakan hand bor, serta pengujian laboratorium yang meliputi berat volume, kadar air, analisis saringan, dan hidrometer. Data geolistrik diolah menggunakan perangkat lunak Res2DInv melalui inversi least-squares, kemudian diintegrasikan dengan data topografi dan hasil pengujian laboratorium untuk menginterpretasikan kondisi bawah permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah memiliki berat volume sebesar 2,07 g/cm³, kadar air rata-rata 16,30%, serta didominasi material kedap air berdasarkan analisis saringan. Analisis hidrometer menunjukkan kandungan lanau sebesar 56,13% dan lempung 43,97%, sedangkan kemiringan lereng mencapai 32,61° yang termasuk kategori curam. Interpretasi geolistrik mengidentifikasi empat lapisan utama, yaitu lempung, batu serpih lapuk, batu pasir lempungan, dan batu gamping. Bidang gelincir diperkirakan berada pada kedalaman sekitar 16,2 m, tepat pada batas antara lapisan batu pasir lempungan dan batu gamping. Integrasi metode geolistrik dengan pengujian indeks properties tanah terbukti mampu memberikan informasi bawah permukaan yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu metode saja, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pemetaan kawasan rawan longsor, perencanaan mitigasi bencana, serta pengelolaan pembangunan pada wilayah dengan karakteristik geologi serupa.
Copyrights © 2026