Stasiun LRT Ciracas sebagai simpul transportasi massal perkotaan menghadapi permasalahan integrasi antarmoda yang belum optimal. Titik pemberhentian Jak Lingko yang berada di luar kawasan stasiun menyebabkan penumpang harus menempuh jarak berjalan kaki yang jauh, sementara area pick up dan drop off ojek online yang belum tertata menimbulkan konflik pergerakan di area stasiun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat integrasi fasilitas Stasiun LRT Ciracas dengan moda pengumpan serta merekomendasikan penataan yang lebih optimal. Metode yang digunakan adalah Modal Interaction Matrix (MIM) berdasarkan Evaluation of Intermodal Passenger Transfer Facilities (Horowitz & Thompson, 1994), dengan penilaian terhadap lima fasilitas integrasi yaitu ruang tunggu, bus stop, parkir, pick up/drop off, dan food court. Data primer diperoleh melalui survei lapangan, observasi, dan wawancara penumpang, sedangkan data sekunder berupa layout stasiun dan data penumpang. Hasil analisis kondisi eksisting menunjukkan nilai Normalized Score sebesar −230 yang termasuk dalam kategori tidak baik (unsuitable). Berdasarkan hasil wawancara, penumpang menginginkan jarak perpindahan moda berada dalam kisaran 21–60 meter. Rekomendasi yang diusulkan adalah pemindahan halte Jak Lingko ke dalam kawasan Stasiun LRT Ciracas disertai peningkatan fasilitas dari bus stop menjadi halte berstandar sesuai Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No. 271/HK.105/DRJD/96. Setelah penerapan rekomendasi tersebut, nilai Normalized Score meningkat menjadi −40 yang masuk dalam kategori baik. Dengan integrasi fasilitas yang lebih baik, diharapkan Stasiun LRT Ciracas mampu meningkatkan minat masyarakat beralih ke transportasi umum dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Copyrights © 2026