Fluktuasi harga saham tidak selalu sejalan dengan kinerja keuangan yang dipunyai perusahaan subsektor makanan dan minuman yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2021–2025, perekonomian nasional menerima kontribusi signifikan dari subsektor ini, ditunjukkan pada realisasi investasi yang mencapai Rp110.57 triliun pada tahun 2024. Studi ini mengkaji hubungan rasio likuiditas yang diproksikan melalui Current Ratio (CR), struktur modal tercermin melalui Debt to Equity Ratio (DER), serta kemampuan aset menghasilkan laba yang direpresentasikan oleh Return on Assets (ROA) terhadap harga saham. Analisis kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif diterapkan pada penelitian ini, dengan melibatkan 10 perusahaan sebagai sampel sehingga diperoleh 50 observasi penelitian. Pengolahan data dilakukan melalui IBM SPSS Statistics versi 26. CR, DER, dan ROA masing-masing memengaruhi harga saham secara signifikan pada uji parsial. Kesesuaian dengan hipotesis awal tercermin dari pengaruh positif yang ditunjukkan CR dan ROA, sementara ketidaksesuaian dengan hipotesis awal yang menduga pengaruh negatif justru tercermin dari pengaruh positif yang ditunjukkan DER, sebuah temuan yang mengindikasikan bahwa peningkatan utang pada tingkat yang masih terkendali dapat dipersepsikan investor sebagai sinyal ekspansi, bukan sebagai peningkatan risiko finansial. Sebanyak 50,3% variasi harga saham dapat dijelaskan CR, DER, dan ROA secara simultan, dan ROA memberi pengaruh paling dominan. Hasil ini mendukung relevansi Signalling theory pada subsektor makanan dan minuman, sekaligus mengindikasikan bagi rasio keuangan penting dicermati secara komprehensif oleh investor dan manajemen perusahaan dalam mengevaluasi maupun menjaga stabilitas harga saham.
Copyrights © 2026