Pesisir Kecamatan Sayung, Demak, mengalami degradasi parah akibat abrasi, banjir rob, dan penurunan tanah yang mengganggu sistem drainase. Penelitian ini menganalisis perubahan garis pantai (2005–2025), kenaikan muka air laut (SLR), penurunan tanah, serta dampaknya pada kapasitas hidraulik saluran. Metode mencakup interpretasi citra satelit multitemporal dengan indeks MNDWI dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk menghitung Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR), analisis data pasang surut Badan Informasi Geospasial, sintesis laju subsiden dari berbagai studi InSAR (DInSAR, PS-InSAR, SBAS) dan GNSS, serta survei lapangan dimensi saluran dan genangan yang dianalisis dengan persamaan Manning. Hasil menunjukkan dominasi abrasi seluas 286,94 ha berbanding akresi 8,86 ha (rasio 32:1), dengan rata-rata mundur garis pantai 32,5 m/tahun dan total 650 m, serta laju tertinggi -44 m/tahun (2015–2020). HAT aktual +0,554 m, tipe pasut campuran dominan harian tunggal. Laju SLR absolut 4,4 mm/tahun, RSLR 7,9 mm/tahun, akumulasi 2005–2025 sebesar 15,8 cm; proyeksi 2050 mencapai 73,8–82,5 cm. Laju penurunan tanah rata-rata 12,07 cm/tahun (maksimum 21 cm/tahun) atau 32–40 kali SLR global, menjadikan 81,2% area tergenang permanen (data JRC). Saluran drainase meluap 15–29 cm saat HAT, menunjukkan kegagalan sistem gravitasi. Disimpulkan subsidensi sebagai faktor dominan kerusakan. Diperlukan pengendalian penurunan tanah, infrastruktur pengendali rob, dan rehabilitasi drainase adaptif dan pemantauan jangka panjang berbasis data satelit serta model hidraulik.
Copyrights © 2026