Salah satu upaya peningkatan produksi padi dapat ditempuh melalui intensifikasi lahan diantarnaya melalui pemanfaatan lahan salin. Tanah salin mengandung kadar garam yang dapat menyebabkan kerusakan sel tanaman, penurunan fotosintesis, serta penurunan efisiensi air dan nutrisi. Hal ini menjadikan produksi padi di tanah salin kurang optimal jika tidak diimbangi dengan upaya perbaikan tanah dan manajemen nutrisi yang tepat. Kegiatan dilakukan di Desa Ujung Gagak, Nusa Kambangan, Kabupaten Cilacap melalui kegiatan farmer action research. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan formula pupuk hayati majemuk terhadap beberapa varieatas pada kondisi lahan salin. Pemupukan mempengaruhi keparahan gejala tanaman serta tinggi tanaman akibat salinitas tanah di lapangan pada fase vegetatif. Varietas memberikan perbedaan respon yang signifikan terhadap tingkat kehijauan daun, keparahan gejala tanaman akibat cekaman salin, serta jumlah anakan baik pada stadia vegetative dan generatif. Varietas lokal Ngaos Mawar pertumbuhannya lebih baik dilihat dari kehijauan daun, keparahan gejala keracunan salinitas yang rendah dibandingkan dengan varietas lainnya. Varietas Ngaos Mawar kategori tahan, Inpara 08 dan varietas Inpari 34 kategori moderat-rentan, sedangkan Inpara 09 termasuk kategori rentan berdasarkan pengamatan lapangan. Pemberian pupuk hayati majemuk dan tanpa pemberian pupuk hayati majemuk tidak mempengaruhi jumlah populasi serangga. Jumlah populasi jenis serangga (guild) menunjukan perbedaan yang signifikan. Jumlah musuh alami lebih banyak dibandingkan serangga hama dan serangga netral. Pemberian pupuk hayati majemuk menunjukan keanekaragaman arthropoda sedang, dengan kondisi ekosistem yang cukup seimbang. Pemanfaatan lahan salin juga memerlukan perhatian waktu tanam tepat dan serempak sehamparan untuk mengantisipasi serangan hama
Copyrights © 2026