ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara petani nanas dan Koperasi Produsen Miwa Pineapple, menganalisis pendapatan petani mitra, serta mengetahui kelayakan usahatani nanas. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, pada Januari–Maret 2026. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Informan dan responden ditentukan secara purposive, terdiri atas satu orang pengurus koperasi dan tujuh petani mitra. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pola kemitraan dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan pendapatan dan kelayakan usahatani dianalisis menggunakan perhitungan biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan Revenue Cost Ratio (R/C ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara petani dan koperasi termasuk pola kemitraan dagang umum. Petani berperan sebagai pemasok daun nanas, sedangkan koperasi bertindak sebagai pembeli sekaligus pengolah serat. Kemitraan dilakukan tanpa kontrak tertulis, bantuan modal, dan penyediaan sarana produksi, dengan pembayaran tunai setelah penimbangan. Rata-rata pendapatan usahatani nanas sebesar Rp109.859.858 per musim tanam, sedangkan penjualan daun nanas memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp602.857 per petani per musim tanam. Nilai R/C ratio sebesar 4,20 menunjukkan bahwa usahatani nanas menguntungkan dan layak diusahakan. Kelayakan usaha terutama ditopang oleh penjualan buah nanas, sedangkan kemitraan dengan koperasi memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan daun nanas sebagai bahan baku serat. ABSTRACTThis study aimed to describe the partnership pattern between pineapple farmers and the Miwa Pineapple Producer Cooperative, analyse partner farmers’ income, and determine the feasibility of pineapple farming. The study was conducted in East Prabumulih District, Prabumulih City, from January to March 2026. A descriptive method with qualitative and quantitative approaches was employed. Informants and respondents were selected purposively and consisted of one cooperative administrator and seven partner farmers. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The partnership pattern was analysed using qualitative descriptive analysis, while farm income and feasibility were examined by calculating production costs, revenue, income, and the Revenue Cost Ratio (R/C ratio). The results showed that the relationship between farmers and the cooperative represented a general trading partnership. Farmers supplied pineapple leaves, while the cooperative acted as the buyer and fibre processor. The partnership operated without written contracts, capital assistance, or production input support, and payments were made in cash after weighing. The average income from pineapple farming was IDR 109,859,858 per growing season, while pineapple leaf sales provided additional income of IDR 602,857 per farmer per growing season. The R/C ratio of 4.20 indicated that pineapple farming was profitable and financially feasible. Farm feasibility was mainly supported by pineapple fruit sales, while the partnership with the cooperative created additional value through the utilisation of pineapple leaves as fibre raw material.
Copyrights © 2026