Sistem tumpang sari menjadi strategi adaptasi penting bagi petani cabai merah di lahan pesisir pantai yang memiliki karakteristik lingkungan budidaya ekstrem. Pola tanam ini mampu meningkatkan produktivitas lahan secara optimal melalui keragaman komoditas dalam satu area tanam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana faktor sosial ekonomi petani memengaruhi keputusan mereka dalam mengadopsi sistem tumpang sari dalam usaha tani cabai merah di area pesisir Yogyakarta. Survei dilakukan terhadap 100 petani cabai merah di wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo. Data dianalisis dengan pendekatan statistik deskriptif dan analisis regresi logistik biner. Analisis deskriptif mengonfirmasi bahwa sekitar 61% petani telah menerapkan sistem tumpang sari pada usahatani cabai merah. Model regresi logistik biner menunjukkan nilai Nagelkerke R² sebesar 0,461. Hasil analisis regresi mengonfirmasi bahwa petani laki-laki, tingkat pendidikan, dan frekuensi penyuluhan signifikan meningkatkan kecenderungan petani dalam mengadopsi sistem tumpang sari, sementara petani dengan luas lahan sempit cenderung menerapkan pola tanam tumpang sari dibandingkan monokultur. Temuan ini mengindikasikan bahwa tumpang sari merupakan strategi intensifikasi yang efektif bagi petani dengan lahan terbatas. Frekuensi penyuluhan diidentifikasi sebagai faktor paling dominan dengan odds ratio sebesar 3,857, sehingga penguatan kapasitas petani melalui penyuluhan yang intensif dapat dilakukan untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga petani di kawasan pesisir.
Copyrights © 2026