Transformasi praktik kampanye dalam era digital mengubah cara kandidat politik membangun dan memproyeksikan identitasnya kepada pemilih. Penelitian ini menganalisis penggunaan political branding sebagai strategi konstruksi citra kandidat pada kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2024 di platform TikTok, dengan membandingkan strategi pasangan Pramono Anung-Rano Karno dan Ridwan Kamil-Suswono dalam membangun brand identity dan mengelola brand image di tengah polarisasi koalisi nasional antara PDI Perjuangan dan Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif, penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan empat informan kunci dari kedua tim pemenangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) konstruksi brand identity Pramono-Rano bertumpu pada simbolisme budaya Betawi yang organik dan autentik, didorong oleh riset opini publik; (2) brand identity Ridwan Kamil-Suswono dibangun di atas citra teknokrat kreatif, namun menghadapi tantangan koordinasi koalisi gemuk; (3) TikTok berfungsi sebagai arena algoritmik yang mempertemukan konstruksi citra (top-down) dan partisipasi publik (bottom-up) melalui user generated content; serta (4) terdapat kesenjangan antara brand identity yang dirancang tim kampanye dengan brand image yang terbentuk di benak publik. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberhasilan political branding digital tidak hanya ditentukan oleh kreativitas simbolik, tetapi oleh konsistensi narasi, adaptasi terhadap logika algoritmik TikTok, serta kemampuan merespons dinamika engagement publik secara efektif.
Copyrights © 2026