Artikel ini berangkat dari kegelisahan akademik atas kegagalan paradigma sosial dan teologis dalam merespons realitas penindasan struktural di masyarakat kontemporer. Pendekatan dominan, baik yang berakar pada Marxisme maupun pendekatan normatif dalam Teologi Pembebasan, cenderung terjebak dalam reduksionisme antara materialisme struktural dan spiritualisme individual sehingga belum mampu menghadirkan sintesis yang transformatif. Di sinilah letak kesenjangan penelitian: belum adanya formulasi epistemologis yang secara integratif menghubungkan transformasi spiritual (inward) dengan perubahan sosial (outward) dalam kerangka teologi Islam kontemporer. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis berbasis Tauhid Emansipatoris dan Tazkiyatun Nafs Transformatif, dengan metode kualitatif melalui analisis filosofis-kritis dan rekonstruksi konseptual terhadap literatur tasawuf, teologi, dan teori sosial. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa tauhid harus direkonstruksi sebagai prinsip emansipasi yang menolak segala bentuk dominasi, sementara tazkiyatun nafs tidak lagi dipahami sebagai purifikasi individual semata, melainkan sebagai metodologi transformatif yang menghubungkan kesadaran spiritual dengan praksis pembebasan sosial. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada pengembangan paradigma baru dalam Studi Islam yang mengintegrasikan ontologi tauhid, epistemologi kesadaran kritis, dan aksiologi keadilan sosial dalam satu kerangka holistik. Dengan demikian, artikel ini menawarkan landasan teoritis bagi pembentukan masyarakat tanpa penindasan melalui transformasi simultan antara diri dan struktur sosial.
Copyrights © 2026