Mesir memiliki sejarah panjang sebagai pusat intelektual Islam melalui Universitas Al-Azhar, namun sistem pendidikan kontemporernya masih menghadapi berbagai tantangan sistemik yang kompleks. Pemerintah Mesir berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui percepatan reformasi kebijakan yang ambisius. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi problematika utama pendidikan di Mesir periode 2020-2024, mengkaji program reformasi Education Reform Program 2.0, serta mengevaluasi efektivitas kebijakan tersebut dalam menjawab tantangan di lapangan. Metode: Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan secara sistematis dari artikel jurnal, laporan lembaga internasional, dan dokumen resmi pemerintah, lalu dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Hasil: Penelitian menemukan empat problematika utama: tingginya angka buta huruf laten (23,7% pada usia di atas 15 tahun), ketimpangan kualitas antargender dan wilayah (perkotaan 84,1% vs pedesaan 65,3%), rendahnya efektivitas sekolah negeri yang memicu maraknya les privat, serta belum terpenuhinya hak pendidikan kelompok rentan. Pemerintah merespons melalui Education 2.0 yang menggeser metode hafalan ke keterampilan abad ke-21 (4C), penguatan STEM, integrasi nilai multikultural, dan digitalisasi sistem ujian (e-assessment). Kesimpulan: Implementasi reformasi menunjukkan capaian progresif seperti peningkatan angka melek huruf nasional menjadi 74,5%, namun efektivitasnya masih terhambat oleh resistensi guru senior, ketimpangan fasilitas kota-desa, serta urgensi harmonisasi dengan sistem Al-Azhar yang berjalan paralel
Copyrights © 2026