Penelitian ini mengkaji metodologi penafsiran Al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat, menganalisis bagaimana keragaman qira'at (variasi bacaan Al-Qur'an) berfungsi sebagai instrumen hermeneutika untuk membuka makna spiritual. Dengan menerapkan hermeneutika filosofis Paul Ricoeur—khususnya konsep distansiasi, dunia teks, mimesis tiga lapis, dan konflik interpretasi—artikel ini mengusulkan bahwa qira'at dalam tafsir Sufi tidak sekadar berfungsi sebagai fenomena fonetis, melainkan sebagai pintu gerbang semantis menuju makna ilahi yang multidimensi. Melalui analisis tekstual kualitatif atas ayat-ayat Al-Qur'an yang dipilih, penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) setiap qira'at menghasilkan horizon semantis yang berbeda dan memperkaya kemungkinan penafsiran; (2) pluralitas bacaan menciptakan distansiasi produktif yang memungkinkan hermeneutika spiritual yang kreatif; (3) pra-pemahaman Sufi Al-Qusyairi mengintegrasikan variasi-variasi tersebut ke dalam epistemologi mistis yang koheren. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dialog antara tafsir berbasis qira'at klasik dan hermeneutika Ricoeurian kontemporer menawarkan model interdisipliner yang inovatif bagi kajian skriptural Islam yang menghormati sekaligus pluralitas tekstual maupun kesatuan makna spiritual, dan memberikan kontribusi signifikan bagi perdebatan hermeneutika agama dalam konteks pluralistis.
Copyrights © 2026