Penelitian ini mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan terhadap penanganan kasus HIV/AIDS di fasilitas kesehatan primer, dengan fokus pada hambatan komunikasi dan konseling. Menggunakan pendekatan etnografi selama empat bulan di tiga puskesmas di Jawa Barat, data dikumpulkan melalui observasi partisipan (120 jam), wawancara mendalam dengan 24 tenaga kesehatan, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan tiga hambatan utama: (1) kecanggungan komunikasi tentang perilaku berisiko (83,3% tenaga kesehatan merasa canggung), (2) konseling pasca-tes yang dangkal (80% hanya memberikan rujukan tanpa dukungan emosional), dan (3) stigma multidimensi yang meliputi stigma interaksional (54% menghindari kontak mata), struktural (100% puskesmas tidak memiliki ruang konseling privat), dan internal (41,7% merasa tidak pantas merawat ODHIV). Hambatan-hambatan ini membentuk lingkaran setan yang menyebabkan tingginya angka loss to follow-up (47%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa hambatan komunikasi dan konseling bukanlah masalah teknis semata, melainkan masalah kultural dan struktural yang membutuhkan intervensi pelatihan berbasis etnografi, penyediaan infrastruktur, serta dukungan psikologis bagi tenaga kesehatan.
Copyrights © 2026