Depresi pascamelahirkan merupakan gangguan mental serius yang sering tidak terdeteksi dan tidak tertangani, terutama karena kompleksitas dukungan keluarga dan hambatan akses layanan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam pengalaman ibu postpartum dengan depresi pascamelahirkan, khususnya terkait peran dukungan keluarga serta hambatan yang dihadapi dalam mengakses perawatan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi interpretatif. Sebanyak 12 ibu postpartum dengan skor EPDS ≥10 diwawancara secara mendalam. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (1) pengalaman depresi pascamelahirkan yang ditandai kesedihan terpinggirkan, ketidakberdayaan, dan beban perubahan peran; (2) dinamika dukungan keluarga sebagai pedang bermata dua yang dapat menjadi pelindung sekaligus pemicu stres; (3) hambatan akses layanan mencakup stigma (91,7%), minimnya pengetahuan (83,3%), serta hambatan struktural seperti biaya dan transportasi (75%). Seluruh partisipan mengembangkan strategi koping alternatif namun tidak menggantikan intervensi profesional. Simpulan penelitian menegaskan perlunya edukasi kesehatan mental yang terintegrasi bagi keluarga, penguatan sistem rujukan yang terjangkau, serta pendekatan holistik yang berpusat pada kebutuhan ibu.
Copyrights © 2026