Latar belakang. Kualitas hidup anak epilepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama gangguan tidur dan frekuensi kejang. Penelitian mengenai hubungan kedua faktor tersebut pada populasi anak di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menganalisis hubungan gangguan tidur dan frekuensi kejang dengan kualitas hidup pada anak epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang pada 52 anak usia 6-18 tahun dengan epilepsi di poliklinik anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi (September-Desember 2024). Gangguan tidur dinilai dengan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC), frekuensi kejang dikategorikan (sering: ?10 kali/tahun), dan kualitas hidup dengan Quality of Life in Childhood Epilepsy Questionnaire (QOLCE-55). Analisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik.Hasil. Subjek didominasi perempuan (51,9%) dengan median usia 11,5 tahun. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara gangguan tidur (OR=3,15; p=0,001), frekuensi kejang (OR=10,40; p=0,001), jumlah obat (OR=5,88; p=0,005), dan onset usia (OR=3,46; p=0,036) dengan kualitas hidup. Analisis multivariat mengonfirmasi frekuensi kejang sebagai faktor paling dominan (OR=8,37; p=0,012), diikuti jumlah obat (OR=6,96; p=0,031), onset usia (OR=6,89; p=0,030), dan gangguan tidur (OR=5,37; p=0,048).Kesimpulan. Terdapat hubungan signifikan antara gangguan tidur dan frekuensi kejang dengan kualitas hidup anak epilepsi. Frekuensi kejang merupakan faktor paling dominan. Skrining gangguan tidur dan optimalisasi kontrol kejang direkomendasikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Copyrights © 2026