Skandal IPO fiktif dan pencucian uang yang menyeret PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia telah tercatat sebagai salah satu prahara terbesar di industri pasar modal tanah air. Riset ini sengaja diorientasikan untuk membedah kontribusi akuntansi forensik serta audit investigatif dalam melucuti modus operandi sekaligus melacak sirkulasi dana gelap di dalamnya. Mengadopsi metode studi kasus kualitatif berbalut pendekatan forensik, penelitian ini mengandalkan pisau analisis berupa pemeriksaan transaksi, pelacakan aset (asset tracing), dan forensic data mining. Temuan lapangan membuktikan bahwa instrumen akuntansi forensik sangat andal dalam mengurai jaringan pencucian uang yang dibungkus rapi lewat legalitas formal, perdagangan semu (wash trading), manipulasi pembukuan, hingga program CSR bodong. Mengguritanya skema ini terbukti mengomandani 7 korporasi dan 58 akun atas nama orang lain (nominee), yang sukses mengeruk keuntungan haram senilai Rp14,5 triliun serta mengatrol harga saham PT Berkah Beton Sadaya Tbk hingga tembus 7.150 persen. Alur dana yang bertingkat-tingkat tersebut merefleksikan siklus klasik money laundering: placement, layering, dan integration. Pada akhirnya, kajian ini menegaskan urgensi restrukturisasi kapasitas praktisi forensik sekaligus optimalisasi piranti digital modern seperti big data dan kecerdasan buatan (AI) guna memberangus kejahatan kerah putih di bursa efek.
Copyrights © 2026