Latar Belakang: Kejadian henti jantung di rumah sakit (In-Hospital Cardiac Arrest) menuntut respons tim yang cepat, terkoordinasi, dan kompeten. Simulasi Megacode dianggap sebagai standar emas karena mampu mengintegrasikan keterampilan teknis (psikomotor) dengan keterampilan non-teknis. Pemetaan literatur yang komprehensif diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas metode ini dalam memitigasi penurunan kemampuan perawat. Tujuan: Menelaah dan memetakan bukti ilmiah terkait efikasi pelatihan simulasi Megacode terhadap kompetensi klinis, keterampilan non-teknis (Crisis Resource Management), instrumen evaluasi yang digunakan, serta fenomena retensi kemampuan perawat di tatanan rumah sakit. Metode: Scoping review ini disusun berdasarkan kerangka kerja PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses for Scoping Reviews). Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, SciELO, dan ScienceDirect untuk artikel open-access berbahasa Inggris dan Indonesia dalam rentang waktu 10 tahun terakhir (2014–2024). Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola efikasi dan hambatan implementasi. Hasil: Dari sepuluh studi yang dianalisis (N=10), ditemukan bahwa simulasi Megacode meningkatkan skor kompetensi psikomotor dan kepatuhan terhadap algoritma ACLS secara signifikan (p < 0,05). Dalam aspek non-teknis, pelatihan ini secara efektif meningkatkan efikasi diri, kepemimpinan, dan komunikasi dalam tim. Namun, seluruh studi melaporkan adanya degradasi kemampuan (skills decay) yang signifikan mulai bulan ke-3 hingga ke-6 pasca-pelatihan. Implementasi metode Unannounced Mock Codes dan pendekatan Low-Dose High-Frequency (LDHF) terbukti lebih efektif dalam memangkas waktu respons (response time) dari rata-rata 3 menit menjadi di bawah 90 detik dibandingkan pelatihan tahunan konvensional. Kesimpulan: Simulasi Megacode sangat efektif untuk meningkatkan kesiapan resusitasi, namun efikasinya bersifat sementara jika tidak didukung dengan program penyegaran berkelanjutan.
Copyrights © 2026