Pendidikan Indonesia menghadapi tantangan serius maraknya kekerasan, intoleransi dan perundungan di lingkungan sekolah yang mengganggu keamanan dan kenyamanan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai-nilai Pangngadereng dalam Lontara Latoa sebagai solusi lokal untuk mitigasi ketiga masalah tersebut di lingkungan sekolah dan merumuskan model integrasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur terhadap naskah Lontara Latoa dan wawancara mendalam dengan budayawan, filolog, tokoh adat, dan ahli pendidikan di Sulawesi Selatan. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh nilai Pangngadereng yang relevan (getteng, tongngenge, Siri' na pesse, siariwawonge, alempureng, asitinajang, siakkasiriseng) dan mengintegrasinya ke dalam empat pilar pendidikan yaitu budaya sekolah, intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Hasil analisis dengan teori Galtung, Bandura, dan Bourdieu menunjukkan nilai-nilai tersebut dapat bertransformasi menjadi modal kultural dan sosial. Disimpulkan bahwa nilai Pangngadereng berpotensi menjadi solusi aplikatif dan kontekstual untuk membentuk karakter siswa yang damai dan inklusif, sekaligus mengisi kesenjangan antara kajian filosofis dan praktik pendidikan.
Copyrights © 2026