Diskalkulia diidentifikasi sebagai gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika, terutama operasi penjumlahan dan pengurangan. Riset pendidikan matematika yang berfokus pada penyandang diskalkulia tergolong sedikit, padahal diperlukan atensi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan abakus dalam meningkatkan keterampilan operasi penjumlahan dan pengurangan siswa dengan diskalkulia. Metode penelitian menggunakan Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A, terdiri dari baseline awal(A1), intervensi menggunakan abakus (B), dan baseline setelah intervensi (A2). Subjek penelitian ditentukan melalui purposive sampling adalah seorang siswa kelas VIII yang didiagnosis mengalami diskalkulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase A1, siswa hanya mampu menjawab 3,125% soal dengan benar. Setelah intervensi dengan abakus pada fase B, tingkat keberhasilan meningkat dari 3,125% hingga 100%. Bahkan setelah intervensi dihentikan pada fase A2, siswa mampu mempertahankan skor 90,6%-100%. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan abakus sebagai alat bantu visual dan kinestetik dapat meningkatkan keterampilan operasi penjumlahan dan pengurangan siswa dengan diskalkulia secara signifikan. Hasil penelitian ini menguatkan pentingnya pendekatan multisensori dalam pembelajaran inklusif bagi siswa dengan gangguan belajar seperti diskalkulia.
Copyrights © 2025