PT.XYZ mengoperasikan mesin boiler berkapasitas 20 ton/jam secara kontinu selama 24 jam untuk mendukung proses produksi. Pengoperasian terus-menerus ini menimbulkan risiko penurunan performa mesin, yang tercermin dari total downtime sebesar 8.160 menit (sekitar 136 jam) sepanjang periode Januari–Desember 2025, atau setara 2,17% dari total waktu operasi. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas sistem perawatan yang diterapkan. Penelitian ini menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengukur efektivitas mesin berdasarkan tiga komponen utama, yaitu availability ratio, performance ratio, dan quality ratio. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan operator terkait jam operasi, downtime, dan output produksi. Diagram fishbone digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab penurunan kinerja mesin. Hasil perhitungan menunjukkan nilai availability ratio sebesar 97,44%, melampaui standar nasional 90%. Nilai quality ratio mencapai 100% karena tidak terdapat produk cacat sepanjang tahun. Namun, nilai performance ratio hanya sebesar 86,90%, di bawah standar nasional 95%, sehingga menjadi faktor utama yang menyebabkan nilai OEE secara keseluruhan hanya mencapai 84,69%, sedikit di bawah standar nasional 85%. Analisis fishbone mengidentifikasi empat faktor penyebab, yaitu faktor mesin (keausan akibat operasi 24 jam), manusia (kurangnya ketelitian operator), metode (belum adanya jadwal maintenance terstruktur), dan lingkungan (suhu kerja tinggi yang memicu overheat). Perbaikan melalui preventive maintenance terjadwal, pelatihan operator, penerapan SOP, serta pengendalian suhu lingkungan diharapkan dapat meningkatkan nilai OEE hingga memenuhi standar nasional secara konsisten.
Copyrights © 2026