Piutang (accounts receivable) merupakan salah satu komponen aset lancar yang memegang peranan sentral dalam laporan keuangan perusahaan. Manajemen piutang yang efektif dan efisien menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam menjaga likuiditas, meminimalkan risiko kredit, serta meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan. Kajian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif konsep manajemen piutang yang meliputi pengertian dan klasifikasi piutang, kebijakan kredit berbasis analisis 5C, prosedur penagihan, perlakuan akuntansi berdasarkan PSAK 55 dan PSAK 71 yang mengadopsi IFRS 9, model expected credit loss (ECL), analisis aging schedule, faktor-faktor yang memengaruhi kualitas piutang, perbandingan model incurred loss versus ECL, rasio keuangan terkait, serta dampak komprehensif manajemen piutang terhadap seluruh komponen laporan keuangan perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, didukung data empiris laporan keuangan tahunan PT Unilever Indonesia Tbk (IDX: UNVR) tahun buku 2022–2023 sebagai acuan analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen piutang yang baik—dicirikan oleh standar kredit selektif, pemantauan aging schedule sistematis, digitalisasi proses penagihan, dan pengendalian internal yang kuat berkontribusi signifikan pada peningkatan kualitas laporan keuangan, efisiensi modal kerja, dan stabilitas kinerja keuangan perusahaan. Data UNVR mengonfirmasi hal ini: receivable turnover mencapai 16,2 kali per tahun dengan days sales outstanding sekitar 22,5 hari, jauh lebih efisien dibandingkan rata-rata industri FMCG Asia sebesar 35 hari. Kajian ini juga mengidentifikasi kesenjangan penelitian terkait penerapan model ECL berbasis PSAK 71 pada sektor non-perbankan di Bursa Efek Indonesia.
Copyrights © 2026