Tingginya pergerakan peti kemas menuntut ketersediaan unit yang laik pakai agar kegiatan logistik dapat berlangsung secara aman, cepat, dan konsisten. Di Depo Pelni Logistics Cabang Surabaya, data Juli-Desember 2025 menunjukkan bahwa 154 dari 826 peti kemas masuk mengalami kerusakan atau sekitar 19%, dengan persentase bulanan berfluktuasi antara 7% dan 28%. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses operasional repair container serta mengidentifikasi akar masalah yang menghambat optimalisasi penanganan kerusakan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap empat informan, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Fishbone Diagram berdasarkan kerangka 5M+1E yang meliputi Man, Method, Machine, Material, Measurement, dan Environment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses gate-in, pencatatan kerusakan, pelaksanaan perbaikan, dan pemeriksaan akhir belum sepenuhnya terstandar. Faktor utama yang memerlukan penguatan mencakup belum optimalnya validasi independen oleh surveyor atau Quality Control, belum tersedianya SOP repair tertulis, pengadaan material yang masih reaktif tanpa safety stock, parameter inspeksi yang belum baku, serta area bengkel terbuka yang rentan terhadap gangguan cuaca. Sementara itu, faktor mesin dinilai telah mendukung operasional dan bukan penyebab dominan. Penelitian menghasilkan rancangan perbaikan berupa draf SOP Repair Peti Kemas, alur kerja usulan, dokumen Estimate of Repair, serta ceklis inspeksi pasca-perbaikan berdasarkan Grade A, B, dan C. Implementasi instrumen tersebut diharapkan meningkatkan konsistensi mutu, memperpendek waktu tunggu, mengurangi rework, dan memperkuat pengendalian operasional depo.
Copyrights © 2026