Rantai pasok kelapa berbasis petani kecil di Minahasa Selatan menghadapi ketidakpastian mutu, pasokan, harga, dan cuaca yang dapat menurunkan kinerja aliran bahan baku dari petani, pengepul, hingga pabrik. Penelitian ini bertujuan menyusun prioritas mitigasi risiko secara proaktif melalui integrasi kerangka Supply Chain Operations Reference dan model House of Risk. Data primer dikumpulkan melalui pemetaan lapangan, wawancara pakar, diskusi kelompok terarah, serta survei praktisi, kemudian dianalisis dengan penilaian severity, occurrence, korelasi risk event-risk agent, Aggregate Risk Potential, dan rasio efektivitas terhadap kesulitan implementasi. Hasil identifikasi menunjukkan 34 kejadian risiko pada proses Plan, Source, Make, Deliver, Return, dan Enable serta 24 sumber risiko. Pada House of Risk fase pertama, sumber risiko dominan berkaitan dengan keterlambatan pembalikan atau rotasi hamparan dan musim hujan saat pengeringan, disusul rantai pasok panjang, produktivitas tanaman tua, volatilitas harga hulu, pertumbuhan jamur, modal kerja terbatas, area pengeringan terbuka, ketebalan hamparan berlebih, kelembagaan lemah, serta kapasitas dokumentasi dan traceability yang rendah. House of Risk fase kedua menghasilkan 12 tindakan proaktif, dengan prioritas utama berupa standardisasi SOP rotasi hamparan, standardisasi ketebalan dan geometri hamparan, serta skema insentif-penalti berbasis mutu. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan ini layak, terukur, auditable, dan dapat direplikasi untuk memperkuat mutu kopra, kontinuitas pasokan, dan daya saing komoditas agro serupa.
Copyrights © 2026