Perkembangan bahasa slang di era digital menunjukkan bahwa makna suatu ujaran tidak lagi ditentukan semata-mata oleh bentuk linguistiknya, melainkan dibentuk melalui proses interpretasi sosial dalam komunitas pengguna media digital. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan terhadap etika komunikasi, terutama ketika perubahan makna berpotensi mengaburkan nilai kesantunan dan tanggung jawab dalam bertutur. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep qaulan sadīdan dalam Tafsir QS. Al-Ahzab ayat 70 melalui perspektif semiotika triadik Charles Sanders Peirce untuk memahami perubahan makna bahasa slang modern serta relevansinya bagi Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data primer berupa QS. Al-Ahzab ayat 70, kitab-kitab tafsir, dan karya Charles Sanders Peirce mengenai semiotika, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi yang dipadukan dengan semiotika triadik Peirce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa qaulan sadīdan memiliki lima karakter utama, yaitu benar, lurus, tepat, membangun kemaslahatan, dan bertanggung jawab. Melalui analisis semiotika triadik, penelitian ini menemukan bahwa makna suatu ujaran dibentuk oleh relasi antara tanda, objek, dan interpretasi sosial. Oleh karena itu, qaulan sadīdan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban berkata benar, tetapi juga sebagai prinsip etika komunikasi yang menuntut ketepatan interpretasi serta tanggung jawab terhadap makna dan dampak sosial suatu ujaran. Temuan ini memperkuat relevansi qaulan sadīdan sebagai landasan pengembangan literasi komunikasi digital, etika bermedia sosial, dan pembentukan karakter komunikatif dalam Pendidikan Agama Islam di era digital.
Copyrights © 2026