Narasi tentang keluarga Imam Eli yang terdapat dalam kitab 1 Samuel 2–4 secara umum dibaca sebagai catatan mengenai kejahatan anak-anaknya yaitu Hofni dan Pinehas atau sebagai kisah penghakiman Allah atas rumah Imam Eli. Akan tetapi, dimensi tanggung jawab Eli sebagai ayah sekaligus imam dalam membina kehidupan rohani kedua anaknya belum banyak digali secara mendalam berdasarkan pembacaan teks dalam bentuk final.. Penelitian ini menelusuri bagaimana narasi 1 Samuel 2–4 menggambarkan kegagalan pembinaan rohani yang dilakukan Eli, sekaligus merumuskan pesan teologis yang hendak disampaikan kitab 1 Samuel mengenai tanggung jawab pemimpin rohani terhadap generasi penerus. Metode yang digunakan adalah teologi biblika yang berakar pada pendekatan historis-gramatikal, dengan memperhatikan struktur naratif, kata-kata kunci dalam bahasa Ibrani, serta konteks perjanjian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kegagalan Eli tidak terletak pada ketidaktahuannya akan kehendak Allah, melainkan pada keengganannya untuk menegur dan mengendalikan anak-anaknya, sehingga jabatan rohani yang dipegangnya tidak disertai pewarisan iman yang hidup. Teks menegaskan bahwa kepemimpinan rohani yang sejati tidak dapat dipisahkan dari pembinaan keluarga, dan bahwa menghormati anak melebihi Allah merupakan kegagalan rohani yang berdampak luas, bukan saja bagi keluarga tetapi juga bagi umat. Temuan ini relevan bagi keluarga, gereja, dan para pemimpin rohani masa kini dalam menjalankan tugas pemuridan lintas generasi.
Copyrights © 2026