Penilaian sikap spiritual dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) menghadapi persoalan validitas karena objek yang dinilai bersifat abstrak dan tidak dapat diamati secara langsung. Guru pada dasarnya hanya menilai manifestasi perilaku siswa, bukan kondisi spiritual yang sesungguhnya, sehingga hasil penilaian rawan bias dan subjektivitas. Penelitian ini bertujuan mengkaji problematika validitas penilaian sikap spiritual dalam PAI dari sudut pandang epistemologis serta merumuskan upaya penguatannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yaitu mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis sumber-sumber ilmiah yang relevan seperti jurnal dan buku, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan tiga persoalan utama, yaitu sulitnya sikap spiritual diukur secara objektif karena sifatnya yang internal, tingginya subjektivitas guru dalam proses penilaian, serta keterbatasan kualitas instrumen yang digunakan di sekolah. Dari perspektif epistemologis, praktik penilaian yang hanya mengandalkan observasi tunggal menghasilkan pengetahuan yang belum sepenuhnya valid tentang perkembangan spiritual siswa. Penguatan validitas dapat dilakukan melalui penerapan asesmen autentik dan multi-teknik, penyusunan indikator yang operasional, peningkatan kompetensi evaluasi guru, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Simpulan penelitian menegaskan bahwa validitas penilaian sikap spiritual bukan sekadar persoalan teknis pengukuran, melainkan juga persoalan epistemologis tentang bagaimana pengetahuan mengenai keadaan batin siswa dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Copyrights © 2026