Penerapan transfer ekologi ekologi sering kali mengalami ketimpangan antara keberhasilan infrastruktur fisik dengan hilangnya pemberdayaan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan menerjemahkan implementasi program Bantuan Keuangan Khusus Insentif Siak Hijau (BKK-ISH) di Kampung Suak Lanjut, Kabupaten Siak, menggunakan metode studi kualitatif kasus dengan pisau analisis teori Merilee S. Grindle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini sukses besar pada sektor pembangunan fisik lingkungan dan sanitasi karena terpenuhinya administrasi yang baik. Namun program pemberdayaan ekonomi seperti kerajinan lidi sawit dan hidroponik gagal berkelanjutan akibat minimnya pendampingan, keterbatasan waktu peserta, dan lemahnya akses pasar. Disimpulkan bahwa kemajuan fisik lingkungan bergerak jauh lebih cepat daripada peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat. Disarankan agar pemerintah kampung memperkuat perencanaan berbasis kebutuhan riil, memfokuskan terhadap komitmen peserta, serta menyediakan pendampingan teknis yang konsisten.
Copyrights © 2026