Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan beban kasus yang terkonsentrasi di wilayah endemis kawasan timur Indonesia, seperti Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tingginya angka kejadian ini diperberat oleh rendahnya perilaku pencarian pengobatan, minimnya pemanfaatan kelambu berinsektisida, serta kuatnya pengaruh pengobatan tradisional di tingkat masyarakat. Tinjauan literatur ini bertujuan menganalisis peran kedokteran komunitas dalam pengendalian malaria di daerah endemis kawasan timur Indonesia. Metode yang digunakan berupa tinjauan pustaka sistematis melalui penelusuran artikel pada delapan basis data, yaitu PubMed, Google Scholar, Scopus, Cochrane Library, EBSCO, ScienceDirect, SINTA, dan Garuda, dengan kriteria inklusi publikasi tahun 2020 hingga 2025 yang membahas peran tenaga kesehatan komunitas, kader malaria, atau program berbasis komunitas di wilayah endemis kawasan timur Indonesia. Tujuh studi memenuhi kriteria dan disertakan dalam tinjauan ini. Hasil menunjukkan bahwa hanya 46,8 persen masyarakat mencari pengobatan dalam 24 jam pertama sejak gejala muncul, sementara pemanfaatan kelambu berinsektisida masih rendah akibat minimnya kesadaran dan ketidaknyamanan penggunaannya. Pluralisme medis, keterbatasan akses fasilitas kesehatan, dan faktor sosial ekonomi turut memperlambat penanganan malaria, sedangkan peran kader malaria dan tokoh adat terbukti strategis meski penerapannya belum merata. Dapat disimpulkan bahwa penguatan peran kedokteran komunitas melalui pemberdayaan kader dan tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk mempercepat pencarian pengobatan dan meningkatkan pemanfaatan kelambu berinsektisida. Tinjauan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan model intervensi kedokteran komunitas yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan guna mendukung target Eliminasi Malaria Indonesia Tahun 2030. Kata kunci: malaria, kedokteran komunitas, Indonesia Timur, kader malaria, perilaku pencarian pengobatan
Copyrights © 2026