Fenomena cancel culture dan serbuan komentar negatif di media sosial menempatkan admin sebagai penghubung langsung antara organisasi dan publik sekaligus sebagai pihak yang menghadapi tekanan komunikasi secara cepat. Penelitian ini menganalisis etika komunikasi admin akun Instagram “X” selama April–Oktober 2025 dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis isi kualitatif. Korpus yang dapat diverifikasi terdiri atas satu unggahan klarifikasi, satu caption, sembilan komentar publik yang direproduksi dalam dokumentasi ilmiah dari kanal resmi akun, lima komentar kontekstual dari diskursus publik, serta tidak ditemukannya balasan individual admin dan jejak moderasi yang dapat dipastikan dari data yang tersedia. Analisis menggunakan empat klaim validitas Habermas, yaitu keterpahaman, kebenaran, ketepatan normatif, dan ketulusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterpahaman menjadi aspek paling kuat karena pesan menyampaikan kronologi dan posisi organisasi secara ringkas, tetapi beberapa ungkapan tetap bersifat umum. Klaim kebenaran terpenuhi secara terbatas karena pernyataan mengenai akhir kerja sama dan ketiadaan profit sharing tidak disertai dokumen pendukung yang dapat diperiksa publik. Ketepatan normatif tampak melalui bahasa yang terkendali dan tidak menyerang pengguna, tetapi pesan belum secara tegas menolak cyberbullying atau melindungi martabat pihak yang menjadi sasaran serangan. Ketulusan tidak dapat dipastikan dari teks saja; klarifikasi menunjukkan keterbukaan mengenai hubungan komersial sekaligus orientasi pemulihan reputasi. Ethical resilience tercermin pada kontrol respons dan konsistensi profesional, sedangkan dimensi relasionalnya masih terbatas karena komunikasi berlangsung satu arah.
Copyrights © 2026