Pertanian konvensional identik dengan penggunaan agrokimia untuk meningkatkan produksi, namun intensitas pestisida dapat menekan populasi organisme tanah seperti cacing tanah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi residu pestisida pada tanah dan kotoran cacing di lahan sayur organik dan konvensional di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, serta menganalisis korelasi sifat tanah dan karakteristik kotoran cacing terhadap residu pestisida. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dan minipit (0,5 × 0,5 m), lalu dianalisis menggunakan Gas Chromatography untuk mendeteksi Klorpirifos dan Profenofos. Lahan sayur organik adalah lahan sayur yang tidak menggunakan bahan kimia dan telah tersertifikasi. Parameter tanah meliputi tekstur, berat volume, kadar air, pH, dan C-organik. Hasil menunjukkan residu yang terdeteksi hanya berasal dari Klorpirifos, yakni pada tanah Candikuning (0,1307 ppm) dan kotoran cacing Titigalar (0,0768 ppm), sementara Profenofos tidak terdeteksi. Tekstur tanah didominasi fraksi pasir dengan berat volume rendah (1,080– 1,285 g/cm³), kadar air 4,585–5,932%, pH 5,9–6,5, dan C-organik 2,332–3,013%. Residu Klorpirifos berkorelasi negatif sangat kuat dengan fraksi liat (r = –0,89) dan positif kuat dengan fraksi debu (r = 0,72). Residu pestisida klorpirifos terdeteksi pada tanah dan kotoran cacing di lahan pertanian sayur konvensional, dengan akumulasinya dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, terutama fraksi debu dan liat. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan pestisida secara bijak untuk menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan organisme tanah.
Copyrights © 2025