Asma eksaserbasi akut dapat menimbulkan sesak napas dan perubahan status respirasi sehingga intervensi keperawatan nonfarmakologis dapat digunakan sebagai pendamping terapi medis. Studi kasus multipel ini bertujuan mendeskripsikan perubahan status respirasi setelah penerapan kombinasi relaksasi napas dalam dan posisi high fowler pada tiga pasien asma eksaserbasi akut di IGD RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Dalam rangkaian perawatan, ketiga pasien menerima oksigen melalui nasal kanul 3 L/menit dan nebulisasi bronkodilator, kemudian kombinasi posisi high fowler dan latihan napas dalam selama 15–20 menit. Evaluasi mencakup frekuensi napas (RR), saturasi oksigen (SpO₂), penggunaan otot bantu napas, dan keluhan sesak. Pada ketiga kasus, RR menurun 4–5 kali/menit dan SpO₂ meningkat 3–5%, disertai berkurangnya penggunaan otot bantu napas dan keluhan sesak. Perubahan tersebut terjadi setelah rangkaian terapi medis dan intervensi keperawatan, sehingga kontribusi spesifik kombinasi relaksasi napas dalam dan posisi high fowler tidak dapat dipisahkan dari terapi yang diberikan bersamaan. Temuan pada tiga kasus ini mendukung kelayakan penerapan kombinasi tersebut sebagai intervensi pendamping dan memerlukan evaluasi lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih kuat.
Copyrights © 2026