Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sosio-ekonomi dari fenomena penetrasi ritel modern dan potensi ekspansi Koperasi Desa (KopDes) terhadap eksistensi pasar tradisional dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Parepare, serta merumuskan rekonstruksi perannya berdasarkan perspektif Keadilan Distributif Islam (Al-’Adl al-Tawzi’i). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis riset lapangan (field research) melalui observasi mendalam di titik-titik simpul ekonomi kota, seperti Lapangan Andi Makkasau, Pantai Mattiro Tasi, Pasar Senggol, Pasar Lakessi, dan koridor Jalan Perumnas Wekke'e. Data dihimpun melalui observasi partisipatif, serta studi dokumen, yang dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem UMKM Kota Parepare berada dalam kondisi rentan yang terfragmentasi. Sektor kuliner public space relatif bertahan namun terkendala modal, sementara pasar tradisional mengalami krisis serius; Pasar Senggol berada dalam kondisi mati suri dan Pasar Lakessi mengalami penurunan drastis jumlah pembeli. Penetrasi ritel modern berjejaring di kawasan perumahan terbukti mengikis pangsa pasar toko kelontong lokal. Dalam kondisi ini, ekspansi KopDes yang bergerak pada lini eceran tanpa pemetaan komoditas berisiko menjadi ancaman baru berupa penumpukan peran usaha (overlapping business) dan kanibalisasi pasar pedagang kecil. Berdasarkan perspektif Keadilan Distributif Islam, pola persaingan yang mengabaikan kelompok rentan (al-du'afa) ini melanggar kaidah La Dharara wa La Dhirar (QS. Al-Hasjr: 7). Penelitian ini mengimplikasikan pentingnya penataan ulang regulasi zonasi ritel modern oleh Pemerintah Kota Parepare serta mereorientasi peran KopDes dari entitas substitutif-kompetitif menjadi komplementer-ta'awun sebagai penyedia rantai pasok grosir dan pembiayaan mikro bagi UMKM lokal.
Copyrights © 2026