Pekerjaan timbunan yang dibangun di atas tanah lunak umumnya menghadapi permasalahan penurunan tanah (settlement) akibat proses konsolidasi. Ketidakpastian dalam memperhitungkan besarnya penurunan tanah berpotensi mengakibatkan perbedaan antara volume timbunan yang direncanakan dan volume aktual di lapangan, sehingga dapat berdampak pada meningkatnya biaya serta terganggunya jadwal pelaksanaan proyek. Untuk memantau besarnya penurunan tanah tersebut, salah satu instrumen geoteknik yang banyak digunakan adalah settlement plate. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan settlement plate dalam perhitungan volume timbunan pada konstruksi yang berdiri di atas tanah lunak. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data hasil monitoring settlement plate, data elevasi timbunan, serta data geoteknik tanah dasar. Selanjutnya, data penurunan yang diperoleh dianalisis guna mengetahui besarnya settlement yang terjadi selama masa konstruksi dan digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan volume timbunan aktual agar elevasi rencana dapat tercapai. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata - rata penurunan (settlement) pada zona Q adalah 1.054 Meter dengan penurunan maksimal pada pengamatan SP-Q03 sebesar 1.955 Meter dan penurunan terkecil pada pengamatan SP-Q10 sebesar 0.804 Meter. Penurunan tanah pada zona Q mempengaruhi volume timbunan sebesar 34.13% atau 24242.238 m³, yang awalnya volume rencana timbunan sebesar 71043.338 m³ menjadi sebesar 95287.575 m³.
Copyrights © 2026