Permukiman kumuh di pesisir Jakarta Utara, khususnya Muara Angke (Zona 1 JSS, prioritas jangka pendek) dan Kamal Muara (Zona 7 JSS, prioritas jangka panjang), menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan air limbah domestik. Penelitian ini menganalisis faktor psikologis yang memengaruhi intensi masyarakat pesisir menggunakan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD), menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) dengan tiga variabel prediktor diantaranya sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku (PBC) yang diuji melalui PLS-SEM (SmartPLS) pada 100 responden di masing-masing lokasi. Hasil menunjukkan PBC dan norma subjektif berpengaruh positif signifikan terhadap intensi di kedua wilayah, dengan PBC paling dominan (koefisien jalur 0,577 di Kamal Muara dan 0,375 di Muara Angke), diikuti norma subjektif (0,310 dan 0,264). Sikap tidak signifikan di kedua lokasi. Temuan ini menunjukkan bahwa niat masyarakat lebih ditentukan oleh persepsi kemudahan akses fasilitas sanitasi dan tekanan norma sosial dibandingkan keyakinan pribadi, dengan sumber norma sosial yang berbeda antar wilayah (aturan pemerintah di Kamal Muara, tokoh RW di Muara Angke). Hasil ini diharapkan menjadi dasar kebijakan sanitasi yang lebih tepat sasaran, khususnya percepatan infrastruktur SPALD dan penguatan sosialisasi berbasis norma sosial.
Copyrights © 2026